Akhir Sebuah Penantian

17 Jan 2011

Pagi ini dia ingin memberi kejutan pada sang suami yang sudah 5 tahun menemaninya dalam keadaan senang dan susah. Kejutan yang sudah lama dia nanti- nantikan.Yang setiap malam dia tak berhenti bersujud memohon akan hadirnya sang buah hati dalam rahimnya, yang akan membuat kabahagiaan dalam rumah tangganya.

Dia pun tak menunggu lama-lama untuk memberitahu suaminya. Dia menghampiri dengan senyuman yang paling indah. Dengan suara yang lembut dia berkata bahwa dia positif hamil. Sang suami langsung sujud syukur mendengar hal itu. Bagaimana tidak suaminyalah yang paling mengiginkan seorang anak yang akan meneruskan bisnisnya yang sudah sukses, dan punya cabang di luar negeri. Sebagai bentuk rasa syukur, mereka mengadakan pengajian besar-besaran, dengan mengundang ustadz yang terkenal.

Bulan demi bulan berlalu, getaran dan gerakan halus dirasakannya meski tendangannya cukup membuatnya mengeryitkan dahi dan menggigit bibir. Dia sangat menjaga kesehatannya, dan suaminyapun sangat menjaganya agar tidak terjadi insiden-insiden yang membahayakan bayi yang ada dalam rahim istrinya. Mereka juga rutin ke dokter kandungan , dan kata dokter bayinya sangat sehat.

Dari pemeriksaan USG tampak bayi berjenis kelamin laki - laki. Sungguh menambah bahagia, karena mereka sangat mengidam - idamkan anak laki-laki. Setiap hari selalu diperdengarkan lantunan bacaan Al Qur’an dari syikh favorit mereka. Dia dan suaminya bercita-cita, kelak anaknya menjadi seorang dokter yang hebat.

Akhirnya masuk juga bulan kesembilan, tak lama lagi bayi kecilnya akan lahir ke dunia. Sungguh dia tak sabar menunggu hari persalinan tiba. Namun tiba - tiba dia merasa ada yang tidak biasa, dia tidak lagi merasakan getar dan gerakannya. Seketika dia menjadi sangat khawatir, “Ada apa nih? Padahal aku sehat sehat saja dan tidak terjadi insiden yang membahayakan seperti jatuh dan semacamnya”. Kata dia dengan raut muka yang penuh dengan kekhawatiran.

Lalu dia dan suaminya pergi ke dokter kandungan untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Terlihat air muka sang dokter tampak berubah, karena dokter kesulitan mencari denyut jantung bayinya. Dokter itupun menyarankan untuk USG. Akhirnya dia USG dan ternyata bayi kecilnya telah meninggal dunia, sang buah hati telah kembali kepada Rabb-Nya. Innalillahi wa Innailaihi Roji’un, kalimat ini dia latunkan dengan linangan air mata.

Malam itu hujan sangat deras seolah ikut menagisi kepergian sang buah hati mereka. Dia dan suaminyapun tak kuasa menahan tangis, bagaimana tidak, bayi yang mereka idam-idam kan kehadiranya selama 5 tahun, telah diambil oleh Sang Pemilik. Ini sesuatu yang sangat berat bagi mereka, dia suami dan keluarga besar mereka.

Kini, jasad buah hati mereka harus dikeluarkan dari rahim. Karena belum waktunya bersalin, maka dia harus menjalani induksi ( pacu), agar timbul kontraksi dan bayi bisa dilahirkan. Akhirnya pukul 01.30, lahirlah jabang bayi laki-laki, bayi yang tak terdengar tangisannya, Yang lebih dulu menuju jannah.

Hikmah

  1. Hidup dan mati hanya Allah yang tahu
  2. Manusia hanya mampu merencanakan dan Allah yang akan menentukan
  3. Tak satupun manusia di bumi ini yang lepas dari ujian Allah
  4. Ridho dan sabar menjadi hal terbaik yang harus dilakukan agar memperoleh nikmat dari kepahitan yang ada

Artikel ini diikutkan dalam Kontes Unggulan Cermin Berhikmah yang diselenggarakan BlogCamp.


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post